(Catatan Refleksi Politik Masyarakat Lokal)
Oleh : Dorelagu Frans*)
Dorelagu Frans [Foto Dok. Pribadi]
Ende
butuh pemimpin yang tegas dan visioner. Artikel ini menjadi refleksi serta menjadi kajian agar kedepan Ende
dapat menjadi daerah dengan prototip pembangunan yang maju di segala bidang
kehidupan masyarakat. Artikel ini bukan tidak menghargai
capaian pembangunan selama ini, tepi kita juga harus jujur berkata bahwa
pembangunan yang dicanangkan selama ini belum/tidak maksimal, masih ada banyak
ketimpangan dan belum ada pemerataan pembangunan di seluruh wilayah kabupaten
Ende.
Aspek hambatan adalah anggaran yang
terbatas, sistim birokrasi yang kurang ideal, birokrasi segmentatif (orientasi
hanya kepada suatu wilayah tertentu), dan ketegasan dalam mengambil keputusan
yang lamban dan tidak efektif serta ketidaktegasan dalam menyelesaikan
masalah-masalah yang ada. Ini tentu ada kaitan erat dengan studi analisis dan
kebijakan sebagai landasan pengatahuan kebijakan publik. Sebuah daerah depat mewujudkan
pembangunan dengan baik, apabila seorang pemimpin memahami dengan baik keadaan
wilayah yang dipimpinnya, memahami keadaan masyarakat dan keadaan budaya. Ini
penting agar mudah menyusun perencanaan pembangunan yang berdaya manfaat dan
berdaya saing tinggi. Langkah-langkah strategis dalam manajemen seperti
Perencanaan (Planning), Pengorganisasian (Organizing), Implementasi (Actuating)
dan Sistim Kontrol yang baik (Controlling) mestinya menjadi pedoman manajemen
pembangunan baik dimiliki oleh pimpinan tertinggi hingga pimpinan di setiap
lembaga departemen di tingkat daerah kabupaten. Ini penting kalau kita ingin
mewujudkan pembangunan daerah dengan baik.
Tulisan ini sebagai catatan
refleksi, karena memang banyak kekurangan yang berkaitan dengan kualitas
pemimpin di Ende saat ini. Di bilang kurang kualitas bukan dari aspek
pendidikan dan kemampuan pengetahuan, tetapi orientasi kepemimpinan lebih
kepada status dan kedudukan, gensi, kewibawaan (Waka) dan ingin di puja-puji,
sehingga suksesi kepemimpinan menjadi ajang transaksi bisnis politik yang
banyak menguras sumber daya uang. Masyarakat akhirnya terbiasa dengan politik
uang. Berbicara politik artinya bicara uang. Hakikat politik sebagai salah satu
nafas demokrasi terus kehilangan maknanya.
Kita tidak berbicara dalam konteks
Indonesia yang luas, kita bicara tentang Ende Lio, daerah Flamboyan kita.
Ende-Lio saat ini sangat identik dengan money politic. Siapapun yang ingin maju
bersaing sebagai kepala daerah beliau harus memiliki dana yang besar untuk
mulai berinvestasi di masyarakat sejak dini dan siap membayar suara disaat
pemilihan. Bahasa orang Ende Lio bilang 'Siap Bantai' di H -1atau2. Yang tidak
memiliki dana siap tersingkir kendati memiliki kemampuan intelektual yang baik
anda tidak diperhitungkan kalau anda tidak memiliki dana (uang). Money politik
seperti ini sudah menjadi kultur di Ende Lio dan telah berlangsung hampir 20
tahun terakhir ini. Sekitar empat periode pemilu berlangsung politik uang terus
mengental.
Kesimpulannya bahwa siapapun siap
calonkan diri asalkan memiliki uang yang banyak untuk membayar suara rakyat.
Suara rakyat yang dipahami sebagai suara Ilahi dianggap tidak memiliki
kesakralan suci. Jadi "Vox Populi Vox Dei menjadi Vox Populi Vox Doi
(Suara rakyat suara Tuhan menjadi suara rakyat suara uang) Politikus sudah tidak mengenal moral
politik. Moral Politik bagi para politikus tamak dianggap sebagai sebuah diksi
yang menghalangi praktik kotor mereka. Saya kebetulan terlibat langsung dalam
aktivitas politik di daerah dan banyak berteman dengan politikus daerah. Saya
berusaha berpolitik secara moral dan berusaha mempelajari praktik politik
mereka. Banyak yang saya ketahui bahwa kebanyakan mereka tidak paham ilmu
politik apalagi soal teori politik sebagai tiang penyangga ilmu politik.
Sepertinya mereka tidak perlu ilmu politik, ilmu politik rumit bagi mereka.
Mereka hanya mengenal datang ke masyarakat berbicara saya calon Bupati/DPR dan
minta pilih saya, satu suara 100 -150 ribu rupiah. Masyarakat karena keadaan
ekonomi, maka nilai uang 100 ribu menjadi sangat berharga bagi mereka. Deal
politik terjadi dan masyarakat menentukan pilihan walaupun pilihan itu telah
masuk ke kotak yang salah tepi apalah daya.
Ini adalah proses pembodohan politik
yang terjadi secara sistematis. Rakyat tidak pernah tahu apa itu definisi
Politik, Presiden, Gubernur, Bupati, DPR RI, DPD RI, DPRD. Tentang fungsi dan
peran masing-masing lembanga dan pengatahuan lain yang menyangkut dengan
lembaga tersebut. Ini perlu masyarakat pahami, tugas politikus memberikan
edukasi kepada masyarakat sehingga mereka dapat menentukan pilihan secara tepat
dan benar. Suara mereka bermanfaat untuk menentukan kebijakan pembangunan
selama lima tahun ke depan.
Teman-teman caleg apalagi
incumbent/petahana begitu gila-gilaan mengeluarkan kocek untuk mendapat simpati
dan suara rakyat. Berbagai strategi mulai dari bermain uang, pembunuhan
karakter lawan, penggiringan opini, nyebar isue negatif dan lain-lain menjadi
wacana politik yang nyaris terjadi setiap hari. Masyarakat dibuat bingung harus
kemana dan pilih yang mana. Kebingungan yang di desain adalah proses pembodohan
masyarakat, masyarakat sudah minim pengatahuan di buat semakin tidak berdaya
dalam kemampuan memahami politik. Belum lagi janji politik yang tidak di
tepati. Kebanyakan bohong ketimbang fakta pembangunan.
Saya dapat info dari teman DPR dalam
obrolan santai berdua. Saya tanya berapa gaji dan insentif lainya yang di
terima DPRD. Beliau menjawab bahwa gaji DPRD sesuai UMP (Upah Minimum Propinsi)
sekitar 2,8jt untuk Propinsi NTT. Uang reses untuk satu tahun berkisar dari
800-1 miliard, belum lagi uang Pokir (Pokok Pikiran Rakyat) dll. Uang reses dan
pokir ini yang seharusnya anggota DPR turun ke masyarakat untuk membantu
pembangunan di masyarakat dengan dana yang ada. Tepi hampir kebanyakan anggota
DPR sedikit sekali memanfaatkan dana tersebut untuk masyarakat. Terus sebagian
besar dana itu kemana. Masyarakat hanya menerima bantuan reses sebesar 50-100
juta, itupun hanya satu daerah kunjungan dan tidak semua dapil yang di
kunjungi. Masyarakat dengan keterbatasan pengatahuan berkata "Baik sekali
anggota DPR itu" (aduh Ine ame miu korban wonge le). Ini beberapa
informasi yang dapat kita kaji bersama.
Pemimpin Yang Tegas
Ende butuh pemimpin yang tegas, ya
harus yang tegas. Tidak dipungkiri bahwa kultur budaya kita memang sudah keras.
Ini terlihat dan terpolarisasi dari kehidupan masyarakat yang keras, sulit diatur,
sulit di ajak kerja sama, tidak tertib, sembrono, suka hura-hura dll. Kondisi
sosial diatas kita butuh figur pemimpin yang tegas. Tegas bukan dalam
pengertian kekerasan tetapi bagaimana mampu menerapkan seluruh peraturan daerah
dan kebijakan pembangunan dengan sebaik baiknya. Mampu menertibkan seluruh
pelanggaran untuk mewujudkan ketentraman dan kenyamanan masyarakat. Tegas
menggunakan anggaran yang tepat sasaran, tegas menertibkan birokrasi yang
semrawut, tidak tebang pilih, tegas dengan yang lain bahkan dengan kelompok
sendiri. Pemimpin harus bersikap adil dalam segala aspek.
Selain tegas pemimpin harus memiliki
track record (rekam jejak) yang baik, memiliki hubungan intimasi yang akrab
dengan masyarakat, tidak munafik yakni berlaku baik karena ingin menjadi
pemimpin setelah mendapatkan semuanya terjadi distance (jarak) dengan
masyarakat. Pemimpin harus berkorban, tidak memanfaatkan kesempatan jabatan.
Saat ini figur-figur yang sudah
pernah muncul ke publik Ende Lio belum perlihatkan rekam jejak secara
transparan, artinya dari semua yang ada, rakyat tidak melihat ada yang baik
dari kaca mata hati. Semua hanya dapat dilihat/direkam secara kasat mata saja.
Semua tampil baik santun ketika ingin bersuksesi di pilkada, sebelumnya sangat
privatis ketimbang publish kebajikan. Disisi lain tidak ada kandidat Bupati
Ende yang tegas saat ini. Belum ada figur yang terlihat tegas, semua
landai-landai saja. Ende yang ragam corak karakter butuh pemimpin yang tegas
menyatukan keragaman karakter. Kultur masyarakat Lio yang ragam dialektis Utara
Selatan, Ende, Ndona, Moke Asa, Sa'o ria menjadi sebuah spektrum realitas
kultur yang butuh pemimpin yang tegas dan berwawasan integratif. Mengacuh
kepada penyatuan manusia dan tujuan pembangunan yang merata.
Ketegasan pemimpin yang kita
butuhkan saat ini. Bukan pemimpin yang bisa di ajak berkongsi sana sini,
pemimpin yang hedonis, dipandang tajir, tepi pemimpin yang rendah hati,
pemimpin yang humanis, pemimpin respektif dan pemimpin yang rela berkorban
untuk masyarakatnya. Pemimpin yang demikian yang kita butuhkan untuk memimpin
Ende Lio ke depan.
Pemimpin Yang Visioner
Peradaban manusia cenderung berubah.
Peradaban dunia saat ini sudah sungguh sangat maju. Kemajuan dalam berbagai
bidang yang di tandai dengan revolusi industri 0.1 hingga 0.5 di Asia dan 0.6,
0.7 telah mulai di Eropa menunjukan bahwa peradaban manusia telah sangat maju.
Kemajuan ini tidak lain karena visi manusia yang jauh ke depan. Untuk mencapai
visi tersebut maka ada misi-misi besar manusia (Human intelligence) yang mampuh
menciptakan berbagai teknologi tinggi (High Technology) seperti program
komputer untuk meniru kecerdasan manusia (Artificial Intelligence). Manusia
mulai menyelaraskan diri dengan kemajuan peradaban tersebut.
Pemimpin yang visioner mampu melihat
kemajuan kemudian mempersiapkan generasi bangsa untuk menghadapi kemajuan
jaman. Kita tidak lagi sebagai penonton, pemakai atau pengguna tetapi penemu
dan pendesain teknogi baru (new technologi). Selain peran besar orang tua,
keluarga dan lingkungan dukungan pemimpin yang visioner menjadi sangat penting
untuk generasi bangsa khususnya generasi daerah.
Pemimpin memiliki otoritas yang
luas, memiliki kebijakan yang kuat, setidaknya visi pemimpin dapat membawa
perubahan besar bagi kemajuan daerah. Dalam konteks Ende Lio kita butuh
pemimpin yang visioner untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi, membangun sarana
dan prasarana infrastruktur, meningkatkan sarana pendidikan dan teknologi,
meningkatkan teknologi informasi dan komunikasi serta meningkatkan sumber daya
hidup masyarakat.
Ende sebagai kota sejarah
(Historical City) dan Central of Flores dan berbagai cerita-cerita magis
legendaris harus menjadi prototip sejarah bangsa. Dari aspek pariwisata
(tourism) banyak situs sejarah dan budaya yang keramat menjadi sumber
penelitian, banyak narasi rakyat yang menjadi sumber tulisan. Dari aspek
geografi alam yang indah dan eksotis menjadi destinasi wisata dunia yang
menakjubkan. Untuk mewujudkan harapan itu, tentu
kita butuh pemimpin yang tegas dan visioner. Karena hanya tipikal pemimpin
demikian yang dapat memimpin Ende Lio mendatang. Masyarakat Ende Lio harus
cerdas dan cermat dalam menentukan pilihan. Pilihan anda dapat menentukan masa
depan daerah kita. Pilihlah dengan tepat dan benar berdasarkan logika kebenaran
dan suara hati yang murni. Siapapun pemimpin Ende Lio Katolik atau Muslim yang
penting kandidat terbaik daerah. Siapapun dia adalah saudara serahim kita yaitu
dari rahim Ende Lio Share Pawe.
*Pemerhati Sosial Budaya Tinggal di Jakarta


