-->
×

Iklan

dulmyid - Informasi Terkini

Iklan

Candil Kuya

Tag Terpopuler

Ende Butuh Pemimpin Tegas dan Visioner

Wednesday, 10 April 2024 | April 10, 2024 WIB

(Catatan Refleksi Politik Masyarakat Lokal)

Oleh : Dorelagu Frans*)

 Dorelagu Frans [Foto Dok. Pribadi]

Ende butuh pemimpin yang tegas dan visioner. Artikel ini menjadi refleksi serta menjadi kajian agar kedepan Ende dapat menjadi daerah dengan prototip pembangunan yang maju di segala bidang kehidupan masyarakat. Artikel ini bukan tidak menghargai capaian pembangunan selama ini, tepi kita juga harus jujur berkata bahwa pembangunan yang dicanangkan selama ini belum/tidak maksimal, masih ada banyak ketimpangan dan belum ada pemerataan pembangunan di seluruh wilayah kabupaten Ende.
 
Aspek hambatan adalah anggaran yang terbatas, sistim birokrasi yang kurang ideal, birokrasi segmentatif (orientasi hanya kepada suatu wilayah tertentu), dan ketegasan dalam mengambil keputusan yang lamban dan tidak efektif serta ketidaktegasan dalam menyelesaikan masalah-masalah yang ada. Ini tentu ada kaitan erat dengan studi analisis dan kebijakan sebagai landasan pengatahuan kebijakan publik. Sebuah daerah depat mewujudkan pembangunan dengan baik, apabila seorang pemimpin memahami dengan baik keadaan wilayah yang dipimpinnya, memahami keadaan masyarakat dan keadaan budaya. Ini penting agar mudah menyusun perencanaan pembangunan yang berdaya manfaat dan berdaya saing tinggi. Langkah-langkah strategis dalam manajemen seperti Perencanaan (Planning), Pengorganisasian (Organizing), Implementasi (Actuating) dan Sistim Kontrol yang baik (Controlling) mestinya menjadi pedoman manajemen pembangunan baik dimiliki oleh pimpinan tertinggi hingga pimpinan di setiap lembaga departemen di tingkat daerah kabupaten. Ini penting kalau kita ingin mewujudkan pembangunan daerah dengan baik.
 
Tulisan ini sebagai catatan refleksi, karena memang banyak kekurangan yang berkaitan dengan kualitas pemimpin di Ende saat ini. Di bilang kurang kualitas bukan dari aspek pendidikan dan kemampuan pengetahuan, tetapi orientasi kepemimpinan lebih kepada status dan kedudukan, gensi, kewibawaan (Waka) dan ingin di puja-puji, sehingga suksesi kepemimpinan menjadi ajang transaksi bisnis politik yang banyak menguras sumber daya uang. Masyarakat akhirnya terbiasa dengan politik uang. Berbicara politik artinya bicara uang. Hakikat politik sebagai salah satu nafas demokrasi terus kehilangan maknanya.
 
Kita tidak berbicara dalam konteks Indonesia yang luas, kita bicara tentang Ende Lio, daerah Flamboyan kita. Ende-Lio saat ini sangat identik dengan money politic. Siapapun yang ingin maju bersaing sebagai kepala daerah beliau harus memiliki dana yang besar untuk mulai berinvestasi di masyarakat sejak dini dan siap membayar suara disaat pemilihan. Bahasa orang Ende Lio bilang 'Siap Bantai' di H -1atau2. Yang tidak memiliki dana siap tersingkir kendati memiliki kemampuan intelektual yang baik anda tidak diperhitungkan kalau anda tidak memiliki dana (uang). Money politik seperti ini sudah menjadi kultur di Ende Lio dan telah berlangsung hampir 20 tahun terakhir ini. Sekitar empat periode pemilu berlangsung politik uang terus mengental.
 
Kesimpulannya bahwa siapapun siap calonkan diri asalkan memiliki uang yang banyak untuk membayar suara rakyat. Suara rakyat yang dipahami sebagai suara Ilahi dianggap tidak memiliki kesakralan suci. Jadi "Vox Populi Vox Dei menjadi Vox Populi Vox Doi (Suara rakyat suara Tuhan menjadi suara rakyat suara uang) Politikus sudah tidak mengenal moral politik. Moral Politik bagi para politikus tamak dianggap sebagai sebuah diksi yang menghalangi praktik kotor mereka. Saya kebetulan terlibat langsung dalam aktivitas politik di daerah dan banyak berteman dengan politikus daerah. Saya berusaha berpolitik secara moral dan berusaha mempelajari praktik politik mereka. Banyak yang saya ketahui bahwa kebanyakan mereka tidak paham ilmu politik apalagi soal teori politik sebagai tiang penyangga ilmu politik. Sepertinya mereka tidak perlu ilmu politik, ilmu politik rumit bagi mereka. Mereka hanya mengenal datang ke masyarakat berbicara saya calon Bupati/DPR dan minta pilih saya, satu suara 100 -150 ribu rupiah. Masyarakat karena keadaan ekonomi, maka nilai uang 100 ribu menjadi sangat berharga bagi mereka. Deal politik terjadi dan masyarakat menentukan pilihan walaupun pilihan itu telah masuk ke kotak yang salah tepi apalah daya.
 
Ini adalah proses pembodohan politik yang terjadi secara sistematis. Rakyat tidak pernah tahu apa itu definisi Politik, Presiden, Gubernur, Bupati, DPR RI, DPD RI, DPRD. Tentang fungsi dan peran masing-masing lembanga dan pengatahuan lain yang menyangkut dengan lembaga tersebut. Ini perlu masyarakat pahami, tugas politikus memberikan edukasi kepada masyarakat sehingga mereka dapat menentukan pilihan secara tepat dan benar. Suara mereka bermanfaat untuk menentukan kebijakan pembangunan selama lima tahun ke depan.
 
Teman-teman caleg apalagi incumbent/petahana begitu gila-gilaan mengeluarkan kocek untuk mendapat simpati dan suara rakyat. Berbagai strategi mulai dari bermain uang, pembunuhan karakter lawan, penggiringan opini, nyebar isue negatif dan lain-lain menjadi wacana politik yang nyaris terjadi setiap hari. Masyarakat dibuat bingung harus kemana dan pilih yang mana. Kebingungan yang di desain adalah proses pembodohan masyarakat, masyarakat sudah minim pengatahuan di buat semakin tidak berdaya dalam kemampuan memahami politik. Belum lagi janji politik yang tidak di tepati. Kebanyakan bohong ketimbang fakta pembangunan.
 
Saya dapat info dari teman DPR dalam obrolan santai berdua. Saya tanya berapa gaji dan insentif lainya yang di terima DPRD. Beliau menjawab bahwa gaji DPRD sesuai UMP (Upah Minimum Propinsi) sekitar 2,8jt untuk Propinsi NTT. Uang reses untuk satu tahun berkisar dari 800-1 miliard, belum lagi uang Pokir (Pokok Pikiran Rakyat) dll. Uang reses dan pokir ini yang seharusnya anggota DPR turun ke masyarakat untuk membantu pembangunan di masyarakat dengan dana yang ada. Tepi hampir kebanyakan anggota DPR sedikit sekali memanfaatkan dana tersebut untuk masyarakat. Terus sebagian besar dana itu kemana. Masyarakat hanya menerima bantuan reses sebesar 50-100 juta, itupun hanya satu daerah kunjungan dan tidak semua dapil yang di kunjungi. Masyarakat dengan keterbatasan pengatahuan berkata "Baik sekali anggota DPR itu" (aduh Ine ame miu korban wonge le). Ini beberapa informasi yang dapat kita kaji bersama. 
 
Pemimpin Yang Tegas
 
Ende butuh pemimpin yang tegas, ya harus yang tegas. Tidak dipungkiri bahwa kultur budaya kita memang sudah keras. Ini terlihat dan terpolarisasi dari kehidupan masyarakat yang keras, sulit diatur, sulit di ajak kerja sama, tidak tertib, sembrono, suka hura-hura dll. Kondisi sosial diatas kita butuh figur pemimpin yang tegas. Tegas bukan dalam pengertian kekerasan tetapi bagaimana mampu menerapkan seluruh peraturan daerah dan kebijakan pembangunan dengan sebaik baiknya. Mampu menertibkan seluruh pelanggaran untuk mewujudkan ketentraman dan kenyamanan masyarakat. Tegas menggunakan anggaran yang tepat sasaran, tegas menertibkan birokrasi yang semrawut, tidak tebang pilih, tegas dengan yang lain bahkan dengan kelompok sendiri. Pemimpin harus bersikap adil dalam segala aspek.
 
Selain tegas pemimpin harus memiliki track record (rekam jejak) yang baik, memiliki hubungan intimasi yang akrab dengan masyarakat, tidak munafik yakni berlaku baik karena ingin menjadi pemimpin setelah mendapatkan semuanya terjadi distance (jarak) dengan masyarakat. Pemimpin harus berkorban, tidak memanfaatkan kesempatan jabatan.
 
Saat ini figur-figur yang sudah pernah muncul ke publik Ende Lio belum perlihatkan rekam jejak secara transparan, artinya dari semua yang ada, rakyat tidak melihat ada yang baik dari kaca mata hati. Semua hanya dapat dilihat/direkam secara kasat mata saja. Semua tampil baik santun ketika ingin bersuksesi di pilkada, sebelumnya sangat privatis ketimbang publish kebajikan. Disisi lain tidak ada kandidat Bupati Ende yang tegas saat ini. Belum ada figur yang terlihat tegas, semua landai-landai saja. Ende yang ragam corak karakter butuh pemimpin yang tegas menyatukan keragaman karakter. Kultur masyarakat Lio yang ragam dialektis Utara Selatan, Ende, Ndona, Moke Asa, Sa'o ria menjadi sebuah spektrum realitas kultur yang butuh pemimpin yang tegas dan berwawasan integratif. Mengacuh kepada penyatuan manusia dan tujuan pembangunan yang merata.
 
Ketegasan pemimpin yang kita butuhkan saat ini. Bukan pemimpin yang bisa di ajak berkongsi sana sini, pemimpin yang hedonis, dipandang tajir, tepi pemimpin yang rendah hati, pemimpin yang humanis, pemimpin respektif dan pemimpin yang rela berkorban untuk masyarakatnya. Pemimpin yang demikian yang kita butuhkan untuk memimpin Ende Lio ke depan. 
 
Pemimpin Yang Visioner
 
Peradaban manusia cenderung berubah. Peradaban dunia saat ini sudah sungguh sangat maju. Kemajuan dalam berbagai bidang yang di tandai dengan revolusi industri 0.1 hingga 0.5 di Asia dan 0.6, 0.7 telah mulai di Eropa menunjukan bahwa peradaban manusia telah sangat maju. Kemajuan ini tidak lain karena visi manusia yang jauh ke depan. Untuk mencapai visi tersebut maka ada misi-misi besar manusia (Human intelligence) yang mampuh menciptakan berbagai teknologi tinggi (High Technology) seperti program komputer untuk meniru kecerdasan manusia (Artificial Intelligence). Manusia mulai menyelaraskan diri dengan kemajuan peradaban tersebut.
 
Pemimpin yang visioner mampu melihat kemajuan kemudian mempersiapkan generasi bangsa untuk menghadapi kemajuan jaman. Kita tidak lagi sebagai penonton, pemakai atau pengguna tetapi penemu dan pendesain teknogi baru (new technologi). Selain peran besar orang tua, keluarga dan lingkungan dukungan pemimpin yang visioner menjadi sangat penting untuk generasi bangsa khususnya generasi daerah.
Pemimpin memiliki otoritas yang luas, memiliki kebijakan yang kuat, setidaknya visi pemimpin dapat membawa perubahan besar bagi kemajuan daerah. Dalam konteks Ende Lio kita butuh pemimpin yang visioner untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi, membangun sarana dan prasarana infrastruktur, meningkatkan sarana pendidikan dan teknologi, meningkatkan teknologi informasi dan komunikasi serta meningkatkan sumber daya hidup masyarakat.
 
Ende sebagai kota sejarah (Historical City) dan Central of Flores dan berbagai cerita-cerita magis legendaris harus menjadi prototip sejarah bangsa. Dari aspek pariwisata (tourism) banyak situs sejarah dan budaya yang keramat menjadi sumber penelitian, banyak narasi rakyat yang menjadi sumber tulisan. Dari aspek geografi alam yang indah dan eksotis menjadi destinasi wisata dunia yang menakjubkan. Untuk mewujudkan harapan itu, tentu kita butuh pemimpin yang tegas dan visioner. Karena hanya tipikal pemimpin demikian yang dapat memimpin Ende Lio mendatang. Masyarakat Ende Lio harus cerdas dan cermat dalam menentukan pilihan. Pilihan anda dapat menentukan masa depan daerah kita. Pilihlah dengan tepat dan benar berdasarkan logika kebenaran dan suara hati yang murni. Siapapun pemimpin Ende Lio Katolik atau Muslim yang penting kandidat terbaik daerah. Siapapun dia adalah saudara serahim kita yaitu dari rahim Ende Lio Share Pawe.
 
 
 *Pemerhati Sosial Budaya Tinggal di Jakarta

 

×
Berita Terbaru Update
CLOSE ADS
CLOSE ADS