Oleh : GF.Didinong*
Silvester Nong yang saya sapa Nong Sil
katanya pernah menangis saat dirawat di St. Carolus Jakarta sebelum ia
menghembuskan nafas terakhir 27 Juli 2021. Ia seperti memilih tanggal
kematiannya itu.
......."Jangan bersedih pa...",
kata seorang perawat yang ikut mengurus dirinya di Carolus. Nong Sil hanya
lirih menjawab bahwa ia menangis karena merasa bahagia setelah ia ditelpon oleh
seorang pastor yang adalah saudaranya.
Silvester Nong Manis berasal dari Dusun
Klo'angpopot di kawasan Iwanggete. Setamat SD sempat masuk seminari Lela,
seangkatan AR Heny Doing , Rafael Raga, dll. Anak anak Seminari Lela di tahun
70 sampai dengan 80-an dari wilayah itu biasanya merupakan anak anak pilihan.
Saat ia masuk Lela 1979, saya pas pindah ke Jawa, ikut orangtua. Baru
belakangan saya kenal dengan Nong Sil.
Sekitar pertengahan 90-an Pater Bollen
merekomendasikan Nong Sil yang baru tamat belajar Hukum di Malang untuk
diterima bekerja di Veritas Jakarta. Veritas adalah sebuah LBH yang dipimpin Om
Sentis da Costa. Beralamat di belakang Gereja St Yosef Matraman. Kami semakin
akrab sejak awal tahun 2000-an terutama karena kedekatan Nong Sil dengan Kaka
Petrus Selestinus (Ketua Keluarga Besar Maumere-Jakarta [KBM Jaya-Jakarta]).
Sering berjumpa dalam banyak aktivitas di berbagai bidang dan sharing macam-macam.
Kami sering bersama walau tidak selalu sejalan. Relasi interpersonal selalu
kondusif karena wajah Nong Sil selalu dihiasi senyum. Ia juga kerap berdialog
dalam bahasa daerah walau saya kurang selalu bisa memahami makna dan ungkapan
bahasa daerah yang dalam atau simbolik.
Sebagai Lawyer Profesional dari Veritas,
Nong Sil lebih banyak kerja pro bono di banyak kasus yang ditanganinya. Voice
of the speechless adalah prinsip perjuangan yang secara konsisten dan penuh
komitmen dipegang oleh Nong Sil. Ia juga pernah terlibat dalam advokasi
berbagai "kasus besar" seperti kasus kematian pastor di Ngada, kasus
Tibo, kasus buruh di Kalimantan, kasus sengketa lahan di Ende, dan lain lain.
Bila ada waktu senggang, Nong Sil
menyempatkan diri pulang kampung untuk bertani. Ia masuk kebun dan menanam.
Secara aktif ia juga mengkampanyekan sengon yang di kembangkan oleh sobatnya Alfonsus
Nuba Sang Petani Sengon Florata.
Dalam tulisan ini, secara khusus saya
ingin mengenangkan 2 peristiwa dimana saya sempat beririsan dengan Nong Sil.
Pertama, Terkait peristiwa pilkada Sikka
2008.
Saat itu saya di Maumere, tak lama setelah
kematian orang tua. Ketika saya hendak kembali ke Jakarta, dokter Ignatius Henyo Kerong yang akan berpasangan
dengan Alexander Longginus dalam pilkada
Sikka 2008 tsb meminta saya bersedia mendukung paket AYO. Saya siap. Aleks
Longginus (Along) adalah Bupati incumbent yang berprestasi menonjol. Ia dari
PDIP. Dokter Henyo Kerong sendiri memiliki jejaring sosial yang luas di
Maumere, khususnya di bidang pelayanan kesehatan masyarakat. Saingan relatif
lemah. Yang diperhitungkan dalam kontestasi pilkada 2008 tsb oleh AYO mungkin
cuma paket Aleks Bapa Robby Idong dari Golkar. Karena kekuatan amunisinya.
Paket pilkada lain seperti Landoaldus Frans Sura (Mesra), Sosimus Mitang
Damianus Wera (SODA), dan Henny Doing Remmy barangkali bisa dianggap sekedar
pelengkap kalau bukan kuda hitam. Ansar Rera, Wakil Bupati Sikka saat itu gagal
mendapatkan endorsement partai politik untuk kandidasi dalam pilkada Sikka 2008.
Saya lantas mulai ikut mendukung menjadi
timses paket AYO dan mengikuti seluruh proses pilkada sejak deklarasi hingga
hari pemilihan. Ikut kampanye di seluruh wilayah kabupaten Sikka. Paket AYO
semula sangat optimistik. Di mana-mana, kampanye ramai dihadiri masyarakat. Namun sekira 2 minggu menjelang hari
pemilihan, isu-isu miring mulai menerpa paket AYO. Di antara isu miring tsb
yang paling berat adalah isu plintiran statement Along yang berbau SARA kepada
etnis Lio. Ini mirip kasus Al-Maidah yang dialami Ahok di Pilgub Jakarta
kemarin. Di samping itu muncul pula isu korupsi yang ditiupkan dari Jakarta.
Menghadapi terpaan isu-isu tersebut, paket AYO tetap tegar dan cukup percaya
diri. Untuk meng-counter isu SARA, wue AHP sempat telpon dari Jakarta agar saya
menyampaikan kepada Along supaya bersedia bargaining dengan Ansar Rera, Namun
Along menolak tegas.
Lalu tibalah hari kampanye akbar penutup.
Saya lupa tanggalnya, tapi itu hari Sabtu. Saat itu, yang masih eksis tinggal
paket AYO dan paket SODA. Soda si kuda hitam berhasil meningkatkan
elektabilitasnya karena hasil kerja kerja senyap yang dilakukan pa Sosi setelah
ia berhenti sebagai Sekda Sikka. Namun yang terutama adalah SODA ternyata
berhasil membangun kesepakatan politik dengan kelompok Ansar Rera yang menjadi
representasi orang Lio. Konstituensi orang Lio memang sangat signifikan di
Sikka. Mereka dominan di Paga, Lekebai, Tanawawo, Magepanda, Alok Barat, dan
PaluE. Sosimus Mitang sendiri saat itu juga bisa mengklaim beberapa wilayah di
Maumere Timur seperti Hewoklo'ang, Doreng, Mapitara, hingga Talibura dan
Tanarawa.
AYO kampanye terakhir di Lekebai dan Lela.
SODA kampanye di Lapangan Kotabaru Maumere. Di Lekeba'i, Edy Dore dibantu Yoche Mali
boleh angkat muka tegak karena bisa menghadirkan ribuan masyarakat dari
Lekeba'i, Lenandareta, Korobhera, dan lain-lain untuk ikut kampanye AYO. Ini
sedikit menutup keraguan AYO atas dukungan orang Lio. Dari Lekeba'i, AYO
bergeser ke Lela. Sampai di Lela, masyarakat bilang... "Moat Along, tidak
usah kampanye di sini....ami mate moret tepo mora kontas..." Maka
rombongan kampanye AYO segera kembali ke Maumere. Kenapa segera? karena saat di
Lela, ada informasi masuk bahwa kampanye SODA di Maumere ternyata berbau
negative bahkan black campaign terhadap AYO.
Selepas Nita, sekitar Wairpelit, sekira
jam 18.00 sore, Innova yang disetir oleh Anjelo Lau semakin ngebut melaju ke
arah Maumere. Masuk lagi khabar meresahkan bahwa dalam kampanye SODA di
Lapangan Kota Baru Maumere yang penuh disesaki massa itu ada diorasikan pula
bahwa Along sudah dikurenti dan sudah diterbangkan ke Kupang hari itu juga.
Padahal paket AYO sedang dalam perjalanan pulang dari Lela ke Maumere.
Tim yang berbicara di panggung kampanye SODA
itu di antaranya adalah beberapa pengacara asal Maumere di Jakarta. Termasuk
Nong Sil. Kepada massa yang hadir di Lapangan Kotabaru itu juga ada dibagi
bagikan fotokopian selebaran untuk mendiskreditkan AYO.
Sampai di Maumere, Lapangan Kotabaru
ternyata sudah sepi. Kampanye sudah berakhir dan massa sudah kembali ke kampung
masing-masing. Rombongan AYO akhirnya melakukan konsolidasi di kantor DPC PDP
Sikka dekat Stadion Gelora Samador. Tokoh-tokoh senior PDIP Sikka seperti OLM
Gudipung dan EP da Gomez datang bergabung. Along dan Henyo serta beberapa
pengurus inti PDIP Sikka nampak segera berdiskusi internal dengan para senior
itu untuk tindakan follow up atas kampanye SODA siang tadi. Beberapa
kader moncong putih nampak marah dan tidak puas. Ada pula kader yang sudah
memegang bukti selebaran fotokopian anti AYO yang tadi disebarkan. Beberapa
pemuda PDIP nampak berbisik bisik satu sama lain di halaman kantor DPC itu.
Mata merah muka berkilat. Mungkin juga sudah mulai minum moke. Belakangan saya
dengar bahwa bisik-bisik itu terkait rencana untuk bikin kaco ke markas SODA.
Akhirnya Along buka suara. Ia minta saya dan Berto Kerong segera berangkat
menuju Waioti ke kantor DPC partai PDIP untuk membubarkan sebuah acara diskusi
sebagai lanjutan dari black campaign di kampanye SODA sore tadi. Diskusi
itu perlu dibubarkan karena saat itu sudah masuk masa tenang dalam kampanye.
Lagipula, materi diskusi itu menurut Along merupakan isu lama yang diulang
ulang saja. Along sendiri langsung menuju RPD untuk melakukan klarifikasi. Dan
esok hari Minggu, ia akan safari ke beberapa gereja di bagian timur Maumere
untuk meluruskan isu dan hoaks yang sempat dipercaya itu.
Kami berdua pun berangkat ke arah Waioti.
Di depan kantor DPC PDP, ada parkir sebuah mobil patroli dan beberapa anggota
kepolisian. Langsung kami tegur agar mereka bisa mengamankan masa tenang dan
tidak mengijinkan acara diskusi politik tsb. Masuk ke dalam kantor, nampak
acara diskusi yang dihadiri belasan orang. Nong Sil sedang bicara berapi api.
Saya dekati Nong Sil dan minta interupsi di telinganya. Kepadanya, juga kepada Kaka
Seles, saya minta acara segera dibubarkan dengan alasan masa tenang. Syukurlah,
mereka mengerti dan menerima serta siap menghentikan acara diskusi tersebut.
Saat kami keluar kantor, di jalan nampak satu truk berisi puluhan pemuda dari
Wolomarang, Mu'ukowot, Nita dll. Wajah sangar siap tempur. Kepada mereka kami
sampaikan agar walong poi, loning acara ia bubar baa. Mereka nampak tidak puas
tapi tetap taat dan kembali ke kantor DPC PDIP Maumere. Entah apa yang akan
terjadi bila diskusi politik tersebut terus berlanjut. Konon saat itu, di
sekitar mesjid Muhammadiah Waioti juga ada berkumpul puluhan pendukung SODA.
Hal kedua di mana saya sempat beririsan
dengan Nong Sil adalah terkait kontroversi yang muncul di FB perihal manajemen
Yaspem/Sea World Club sesaat setelah Pater Bollen meninggal dunia...
Jujur, sesungguhnya saya tidak terlalu
faham ceritera detail di balik kontroversi tersebut. Hanya umum-umum saja. Di
wall FB saya juga hanya menulis selintas narasi in memoriam Pater Bollen
dengan sedikit insinuasi menyinggung kontroversi tersebut. Mungkin karena
tulisan saya di FB tersebut, Nong Sil lantas menghubungi saya tengah malam. Ia
coba jelaskan duduk masalah lalu minta pendapat saya. Kepada Nong Sil, saya
hanya tegaskan sikap saya yaitu mikul dhuwur mendem jero dan bersedia
merangkul seluruh stakeholder Yaspem. Nong Sil mendengarkan saja tanpa
membantah. Di akhir pembicaraan ia ucapkan epan gawan dan tabe.
Selanjutnya, saya tidak lagi mengikuti perkembangan masalah tersebut....
Sekali lagi selamat jalan Nong Sil. Engkau
tercatat dalam memori orang banyak, bukan hanya tentang riwayat dan
perjuanganmu, tetapi juga dalam sepenggal sejarah Nian Tana Maumere.
*Penulis adalah Ketua Bidang Sosial dan Budaya DPP FKM FLOBMORA-Jakarta, Pemerhati Sosial dan tinggal di Jakarta


